Perawatan Rutin Batu Alam
Eksplorasi keindahan batu alam dalam dunia arsitektur seakan tidak lekang dimakan jaman. Mulai dari beberapa abad yang lalu, bermacam jenis batu alam telah diaplikasikan pada bangunan, baik hanya sebagai tempelan elemen visual maupun untuk mendapatkan sifat lebih dari batu alam itu sendiri (mis, tekstur, keawetan, dll). Saat ini banyak dijumpai beraneka jenis batu alam dipasaran, dan banyak juga dijumpai elemen “batu alam buatan manusia”. Penggunaan batu alam sebagai elemen arsitektur bukannya tanpa kendala, karena banyak ditemui beberapa jenis batu alam justru memerlukan perawatan yang lebih rumit, dan kadang situasi ini tidak diantisipasi saat perencanaan maupun pembangunan bangunan itu sendiri.
Cara perawatan rutin batu alam secara umum adalah sebagai berikut :
Musuh utama elemen batuan arsitektural adalah jamur dan lumut, untuk itu batu alam yang terpasang telah dilapisi dengan vernis. Namun lapisan ini tidak lantas menjamin bahwa elemen batu yang saat ini terpasang bebas lulut maupun jamur. Untuk menghindari lumut maupun jamur sebaiknya pelapisan vernis dan pre-coat pada lapisan batu diulang minimal sekali setahun. Vernis yang digunakan sebaiknya vernis khusus untuk melapisi batu alam, dan sebelum melakukan pelapisan sebaiknya permukaan batu disikat permukaannya lalu dikeringkan dan siap untuk di lapis kembali. Apabila telah elemen batuan sudah terlanjur penuh lumut dan jamur yang membandel karena keterlambatan perawatan maka terpaksa batu alam harus digerinda terlebih dahulu sebelum proses penyikatan dan pelapisan dilakukan. Jika hal ini yang terjadi maka resikonya adalah tekstur batu bisa menjadi rusak, untuk itu pentingnya perawatan secara berkala agar selalu tampak indah.
DIarsipkan di bawah: Artikel